Oleh: elanvital2009 | Juli 20, 2011

MOTIVASI: Bagaimana Caranya Supaya Bisa Pede?

KALAU mau jujur, berdasarkan pengamatan yang pernah saya lakukan, sangat banyak orang Indonesia yang sebenarnya kurang pede, tapi tak pernah menyadari kalau mereka kurang pede

Kurang pede itu apa sih?

Kurang pede ya kurang percaya pada diri sendiri. Punya masalah, tapi tidak mampu menyelesaikannya secara mandiri. Takut atau ragu-ragu mengambil keputusan. Takut kalau keputusannya salah. Bahkan boleh dikatakan pikirannya macet. Tidak tahu solusinya. Bahkan rasa “minder wardig” atau rendah diri juga merupakan salah satu penyebab dari sikap kurang pede.

Curhat

Satu-satunya jalan, mereka biasanya curhat. Bisa curhat ke teman, saudara, tetangga atau siapa saja. Mereka mencari masukan-masukan pendapat orang lain yang kira-kira bisa memecahkan masalah yang dihadapi.

Orang pede tidak akan curhat

Lucu kalau ada yang mengatakan orang yang curhat belum tentu kurang pede. Lho, logikanya bagaimana? Orang yang pede adalah orang yang “self confidence”. Artinya, di dunia ini tidak ada orang pede yang curhat. Logikanya, orang curhat karena kurang pede.

Bias semantik

Kalau ada yang mengatakan orang curhat belum tentu orang yang kurang pede semata-mata karena bias semantik. Tidak tahu apa arti, definisi dan deskripsi daripada kata curhat. Mencampuradukkan pengertian curhat dengan menyampaikan pendapat biasa, aspirasi biasa, ide biasa, gagasan biasa atau ungkapan biasa. Orang yang menyatakan cinta bukanlah curhat, melainkan menyampaikan ungkapan.

Curhat itu apa sih?

Kalau Anda buka kamus, maka kata curhat sama artinya dengan “sharing” dalam bahasa Inggeris yang artinya “berbagi” (berbagi rasa, berbagi pendapat,berbagi ide dan lain-lain). Kalau Anda ingin berpendapat, carilah referensi berupa kamus, ensiklopedia atau apa saja untuk mencari definisi atau pengertian yang berlaku umum dan benar. Jangan menggunakan penafsiran versi Anda sendiri karena itu bersifat subjektif dan tidak akan menemukan titik temu.

Contoh orang-orang yang kurang pede

1.Beli gelar S1,S2 atau S3. Tanpa disadari, sebenarnya mereka punya masalah. Teman-temannya sudah punya gelar S1,S2,S3, kok mereka belum punya gelar. Mereka merasa kurang pede kalau bergaul dengan teman-temannya yang S1,S2,S3. Maka, mereka curhat ke teman-temannya, di mana bisa diperoleh gelar S1,S2 atau S3, dengan mudah.

2.Karena punya jabatan menteri, rasa-rasanya kurang pede kalau naik mobil Toyota Kijang. Ya, paling tidak naik mobil seharga Rp 1,3 miliar, begitulah.

3.Karena temannya memakai HP Qwerty yang lebih canggih, maka Si A yang duduk di bangku SMP yang pakai HP biasa, menjadi kurang pede. Diapun curhat ke orang tuanya, minta dibelikan HP model qwerty.

4.Karena ingin menang pemilu, tetapi dananya kurang, maka capres A curhat ke parpol X tentang masalah kekurangan dana itu. Soalnya, kalau dananya sedikit, capres A kurang pede dan tidak yakin bisa menang.

5.Presiden X, karena takut dipermakzulkan atau dilengserkan, maka presiden X curhat ke para pimpinan lembaga negara, pimpinan TNI, atau curhat ke siapa saja. Kenapa? Karena presiden X kurang pede. Kalau dia presiden pede, tentu tak perlu curhat ke banyak orang. Dia harus yakin bisa mengatasi masalah dan mengambil keputusan secara mandiri tanpa harus curhat ke mana-mana

Bagaimana caranya supaya bisa pede

Sebenarnya tidak begitu sulit.

1.Memahami realitas

2.Tak terpengaruh lingkungan

3.Berani mengambil keputusan sendiri.

ad.1.Memahami realitas

Misalnya, kalau punya mobil jelek, ya tidak usah minder atau rendah diri. Biarkan orang lain meledek Anda. Masa bodoh. Realitanya memang mobil Anda jelek,kok. Tidak perlu malu. Tanggapi semua komentar negatif dengan senyum.

2.Tak pengaruh lingkungan

Biarkan teman Anda sudah S2 atau S3, punya gelar MM, PhD atau gelar-gelar lainnya. Walaupun Anda cuma lulusan SMA atau cuma S1, cuek saja. Hidup Anda adalah hidup Anda. Nikmati hidup Anda dan tidak perlu terpengaruh oleh pendapat orang lain.

3.Berani mengambil keputusan sendiri.

Ciri orang pede yaitu, tidak pernah curhat dan tidak pernah meminta pendapat orang lain. Dia tetap yakin bahwa keputusan yang akan diambil adalah keputusan yang benar. Namun, dia juga berani menanggung resiko atas keputusannya itu.

Apakah keputusannya benar atau salah, tidak soal. Yang penting berani mengambil keputusan secara mandiri.

Sumber foto: ajangberkarya.wordpress.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger


Responses

  1. Mksi ya atas motifasiya….


Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: