Oleh: elanvital2009 | Juli 30, 2011

KREATIVITAS: Pengalaman Lima Jam Mengendarai Motor Berkanopi

Foto: Kanopi Motor Versi 3 Edisi Juli 2011

DI luar negeri (China, Jepang, Taiwan, Hongkon, Italia, Perancis, dll) mungkin motor berkanopi atau beratap, sudah merupakan hal yang biasa. Namun, kebanyakan digunakan untuk berdagang. Ciri khasnya yaitu, kanopi motornya hanya berlaku untuk merek tertentu saja. Tidak bisa digunakan motor merek lain. Sedangkan kanopi motor yang saya ciptakan, bisa digunakan untuk semua jenis dan merek motor bebek. Kecuali Speedy.

Berangkat

Sabtu, 30 Juli 2011. Tepat pukul 09:00 WIB dengan speedo motor menunjukkan angka 01971, motorpun meluncur dari BSD City.

Rute

BSD City-Pamulang-Ciputat-Pondok Indah-Kebayoran Baru-Mampang (TransTV/Trans7)-Kembali ke Kebayoran Baru-Ratu Plasa-Senayan-Slipi (Apartemen Slipi)-Kebon Jeruk (RCTI)-Ciledug-Banjar Wijaya-Serpong-Kembali ke BSD City

Istirahat

Tiap tempat, istirahat selama 5 menit.Istirahat sebanyak 12 kali. Total 60 menit atau 1 jam.

Tiba kembali di BSD City Tangerang Selatan

Tiba di rumah pukul 15:00 WIB termasuk istirahat 1 jam. Total perjalanan saja 5 (lima) jam. Spedo meter saat tiba di rumah 02081. Total jarak tempuh 110 km. Kecepatan rata-rata 22 km/jam. Maklum. Di mana-mana macet. Kaki pegal karena selalu sering menyentuh tanah untuk menjaga keseimbangan.

Macet

Bukan hal yang baru. Di manapun macet. Padat merayap. Menyebalkan. Memuakkan.Mengesalkan. Meskipun demikian,saya jalani santai-santai saja. Tidak perlu terlalu dipetrsoalkan.

Polisi

Takut polisi? Tidak. Bahkan sejak Semanggi hingga Slipi saya selalu berdampingan dengan mobil patroli poliisi. Juga, sepanjang perjalanan di Kebon Jeruk, polisi naik motor gede juga di samping saya. hampir di tiap perempatan di Kebayoran baru dan lain-lain, selalu ada polisi. Sengaja saya jalan lambat di depannya. Tidak apa-apa,tuh?

Angin kencang di jalan layang Mampang

Nah! Ketika naik jalan layang mampang yang cukup tinggi, seperti biasa, angin berembus kencang. Apakah kanopi saya terpengaruh? Bergeser? Dibawa angin? Kanopi saya miring? Tergangggu?. Jawaban saya: “Demi Allah tidak! Kanopi tetap melanju dengan aman dan stabil”. Semua bentuk kanopi sudah didesain untuk menghadapi angin. Aerodinamikanya cukup sempurna.

Tiap lampu merah

Suatu hal yang di luar dugaan yaitu, tiap berhenti di lampu merah, selalu ada pengemudi motor yang ada disamping saya bertanya “Bikin sendiri atau beli,Pak?” atau “Kalau kena angin bagaimana,Pak?” atau “Kalau ada hujan bagaimana,Pak?” Semua saya jawab dengan jujur bahwa semua aman-aman saja.

Minta foto bersama kanopi

Satu lagi yang di luar dugaan, tiap kali berhenti istiahat, selalu ada orang minta difoto bersama kanopi motor saya. Kebetulan mereka membawa HP berkamera atau kamera digital. Salah satu contoh: Ketika saya istirahat di Ciputat dan sekalian mengisi pulsa SIMpati, ada seorang bapak yang sedang berolah raga sepeda langsung berhenti di depan kanopi saya. Berkenalan. Tanya ini tanya itu tentang kanopi. Kemudian minta difoto bersama kanopi motor saya. Tentu, dengan senang hati saya memfoto memakai kamera digitalnya. Begitu juga di Mampang, Ratu Plasa, depan Apartemen Slipi dan di Kebon Jeruk.

Langsung difoto

Ada juga penumpang mobil yang langsung membuka kaca jendela dan lansung memfoto kanopi motor yang tentu saja sedang melaju. Bahkan ada pembonceng motor yang juga memfoto. Bisa saya maklumi, di Indonesia kanopi motor masih merupakan hal baru, barang baru yang dipandang unik atau bahkan aneh.

Kanopi tetap stabil

Kanopi motor versi 3 (Pitor V3 Edisi Juli 2011) yang telah saya sempurnakan, tetap kokoh. Padahal sering melewati polisi tidur yang terjal atau lobang jalan yang cukup dalam. Tetap kokoh. Tidak ada sedikitpun kerusakan.

Kejadian lucu

Hanya ada satu kejadian lucu. Sewakttu melewati Ciledug yang macet,  ditambah lagi banyak pedagang buah-buahan dan terutama durin di pinggir jalan, secara tak sengaja kanopi saya nyangkut di salah satu durian. Penjualnya langsung teriak sambil tertawa. Untunglah, kejadiannya tidak parah.

Kapok

Walaupun saya pulang dengan selamat dan perjalanan aman-aman saja dan menyenangkan, namun saya yang sudah berusia 59 tahun pada 2011 merasa kapok. Capek di telapak tangan. Rasa-rasanya seperti lecet. Kaki yang sebentar-sebentar turun untuk menjaga keseimbangn m
otor juga membosankan. Suasana kemacetan yang kurang nyaman membuat saya kapok. Memang, perjalanan yang menyenangkan, sekaligus menyebalkan.

Kesimpulan

1.Kanopi motor merupakan hal baru di Indonesia. Perlu sosialisasi terus menerus

2.Mereka kebanyakan ingin memiliki dan menggunakan kanopi motor, tetapi ada tiga hal yang ditakuti: angin, polisi dan lebih suka memakai jas hujan kalau hujan.

3.Sehubungan butir dua di atas, perlu adanya pencerahan bahwa kanopi motor yang aerodinamikanya bagus, tak masalah jika ada angin kencang (kecuali angin puting beliung). Soal polisi, dalam UU Lalu Lintas No.22 Tahun 2009, tidak ada satu pasalpun yang melarang penggunaan kanopi motor sejauh aman, nyaman dan memenuhi persyaratan teknis dan tidak mengganggu pengendara lain. Jas hujan hanya mengatasi hujan tetapi tidak mengatasi panas terik matahari.

Motto

-Inovasi tiada henti.

-Selalu disempurnakan sepanjang waktu.

-Tanpa batas akhir.

Hariyanto Imadha

Inovator


Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: